Dua Jam yang Hilang” (Tentang Flow State)
Psikologi
Pagi itu, Raka duduk di depan laptop dengan satu niat sederhana: menyelesaikan satu bagian laporan. Bukan laporan besar—cuma satu subbagian kecil yang dari kemarin tertunda.
Dia menarik napas, membuka file… lalu berhenti.
Notifikasi masuk. Grup WhatsApp sekolah. Ada yang tanya jadwal. Ada yang kirim meme. Ada yang minta revisi.
Raka jawab sebentar. Lalu buka Instagram “cuma 1 menit.” Lalu lihat jam. 30 menit hilang.
Dia mendesah.
“Kenapa sih susah banget fokus?”
Padahal dia orangnya rajin. Disiplin. Punya target. Tapi tetap saja: otaknya seperti pasar malam—ramai, ribut, dan sulit diatur.
Di situlah Raka baru sadar: masalahnya bukan dia malas. Masalahnya… otaknya sedang tidak punya kondisi yang tepat untuk masuk ‘zona’.
Bab 1 — Saat Otak “Berantakan” Itu Normal
Raka pernah baca satu kalimat yang terasa menampar:
“Kalau dibiarkan tanpa struktur, pikiran manusia cenderung loncat-loncat.”
Dan itu benar. Saat tidak ada pegangan yang jelas, otak mulai:
- mengulang masalah,
- memikirkan penilaian orang,
- menimbang masa depan,
- mengkritik diri sendiri.
Raka merasakannya jelas. Setiap mau mulai kerja serius, muncul suara kecil:
“Kalau tulisanku jelek gimana?” “Kalau nanti dikomentari gimana?” “Kalau aku salah konsep gimana?”
Itu bukan kurang ilmu. Itu overthinking.
Dan selama suara itu aktif, fokus Raka bocor ke mana-mana.
Bab 2 — Raka Belajar Apa Itu “Flow”
Siang harinya, dia ngobrol dengan temannya, Nisa, yang terlihat santai tapi produktif.
Raka tanya, “Kok kamu bisa ngerjain banyak hal tanpa kelihatan stres?”
Nisa ketawa, “Aku nggak nunggu mood. Aku nyusun kondisi biar masuk flow.”
“Flow?”
“Iya. Flow itu saat kamu tenggelam total dalam aktivitas. Fokusnya kuat. Kerjanya mengalir. Waktu rasanya cepat. Kamu nggak mikirin ‘aku terlihat gimana’. Orang bilangnya ‘in the zone’.”
Raka mengangguk pelan. Dia pernah merasakan itu—dulu, waktu latihan olahraga, atau saat bikin materi yang dia suka. Tiba-tiba dua jam lewat, tapi dia merasa “baru sebentar.”
Itu bukan semangat biasa.
Flow itu seperti mode kerja otak yang efisien.
Bab 3 — Kenapa Flow Sulit Terjadi?
Nisa bilang sesuatu yang Raka ingat betul:
“Flow itu bukan soal motivasi. Flow itu soal desain.”
Lalu Nisa menjelaskan pelan-pelan.
Flow biasanya muncul kalau lima hal ini ada:
- Tantangan cukup sulit, tapi masih mungkin dikuasai
- Tujuan jelas (kamu tahu langkah berikutnya)
- Feedback cepat (kamu langsung tahu benar/salah)
- Distraksi hampir nol
- Ada progress yang terlihat
Raka langsung melihat masalahnya:
- Tugasnya terlalu besar dan kabur: “nyelesain laporan” (besar banget).
- Feedback lambat: baru tahu hasilnya saat dikomentari orang.
- Distraksi tinggi: notifikasi hidup, banyak tab, HP dekat.
- Progress tidak terasa: karena targetnya kebanyakan.
Wajar flow tidak muncul.
Bab 4 — 9 Tanda Raka Mulai Masuk “Zona”
Sore itu, Raka memutuskan mencoba.
Dia mulai dari hal kecil.
Bukan “ngerjain laporan.” Tapi:
“Menulis 200 kata untuk bagian pendahuluan.”
Lalu dia menutup semua tab. Menyalakan mode fokus. Menjauhkan HP. Timer 60 menit.
Awalnya masih berat. Tapi setelah 10–15 menit, ada perubahan aneh:
- dia tidak merasa perlu cek HP,
- tangannya mulai menulis tanpa banyak ragu,
- suara “takut dinilai” mengecil,
- kata-kata keluar lebih lancar,
- dan… waktu seperti melompat.
Saat timer berbunyi, Raka kaget.
“Lho? Udah sejam?”
Dia baru sadar: beberapa tanda flow sudah muncul:
- Tantangan pas (tidak gampang, tidak bikin panik)
- Aksi terasa otomatis
- Tujuan jelas (200 kata)
- Feedback cepat (dia bisa baca ulang langsung)
- Fokus terkunci
- Rasa kontrol ada (dia mengendalikan cara kerja)
- Inner critic mengecil
- Waktu berubah
- Proses terasa nikmat (bukan cuma hasil)
Dia tidak “bahagia meledak-ledak.” Tapi ada rasa:
tenang + fokus + mengalir.
Bab 5 — Apa yang Terjadi di Otak Raka?
Nisa pernah bilang begini:
“Bayangin otak itu seperti ruangan penuh orang ngobrol.”
Saat tidak flow:
- ada yang mengkritik,
- ada yang khawatir,
- ada yang menilai diri,
- ada yang nyuruh cek notifikasi.
Saat flow:
- sebagian besar suara itu diam,
- yang aktif tinggal satu: “lakukan ini sekarang”.
Itulah kenapa flow terasa ringan. Bukan karena tugasnya mudah, tapi karena otak tidak lagi membuang energi untuk ribut internal.
Bab 6 — Kenapa Flow Terasa Enak?
Raka memperhatikan satu hal: flow itu bikin dia ingin lanjut.
Nisa menjelaskan versi simpelnya:
“Kalau kamu fokus dan progress terasa nyata, otak biasanya melepas zat yang bikin kamu:
- tertarik,
- fokus,
- tahan capek,
- dan puas.”
Makanya flow bisa terasa “nagih”.
Tapi Nisa juga mengingatkan:
“Kalau yang dicari cuma rasa enaknya, kamu bisa jadi ‘pemburu sensasi’, bukan pemburu kualitas.”
Bab 7 — Protokol Flow ala Raka (yang Akhirnya Jadi Kebiasaan)
Malam itu, Raka menulis rumusnya sendiri di notes. Bukan teori. Tapi kebiasaan yang bisa diulang.
1) Target kecil (yang bisa selesai) “200 kata.” “1 soal.” “1 halaman.” “15 menit latihan.”
2) Feedback cepat Baca ulang, run/compile, cek rubrik, cek skor.
3) Tingkat sulit: sedikit di atas kemampuan Kalau terlalu gampang: bosan. Kalau terlalu berat: cemas. Yang pas: “menantang tapi masih bisa dikejar.”
4) Matikan distraksi Mode fokus, satu tab, HP jauh, timer 45–90 menit.
5) Pemanasan 5 menit Mulai dari yang paling mudah: buka file, tulis 3 kalimat, bikin outline.
6) Tutup dengan jembatan Sebelum stop: tulis “langkah pertama besok.” Supaya besok tidak mulai dari nol lagi.
Raka menyadari sesuatu: flow bukan keajaiban.
Flow itu hasil dari kondisi yang disiapkan.
Bab 8 — Sisi Gelap Flow (yang Hampir Menjebak Raka)
Beberapa hari kemudian, Raka mulai mudah masuk flow. Produktif. Cepat selesai.
Tapi ada efek samping.
Dia jadi:
- lupa makan,
- lupa istirahat,
- menunda ngobrol dengan keluarga karena “lagi seru”.
Sampai suatu malam, setelah sesi flow panjang, dia merasa kosong dan mudah kesal. Seperti “drop.”
Di sini Raka paham: flow itu hebat, tapi bukan untuk dikejar tanpa rem.
Akhirnya dia membuat aturan:
“Flow boleh. Tapi selesai flow harus ada recovery: makan, jalan, ngobrol, tidur.”
Bab 9 — Flow di Kelas (Raka Terapkan ke Murid)
Sebagai guru, Raka sadar muridnya juga bisa flow—asal tugasnya benar.
Dia ubah cara mengajar.
Bukan tugas besar yang bikin bingung. Tapi bertahap:
- tujuan kecil jelas,
- tantangan naik pelan-pelan,
- feedback cepat,
- anak merasa “aku bisa naik level.”
Hasilnya mengejutkan.
Anak yang biasanya gelisah jadi tenggelam dalam tugas. Anak yang mudah bosan jadi lebih tahan.
Raka melihat flow bukan cuma untuk produktivitas pribadi.
Flow bisa jadi cara belajar paling alami.
Penutup
Suatu hari, Raka membaca lagi catatannya sendiri. Kalimat paling pentingnya ada di bawah:
Flow bukan soal motivasi. Flow soal desain tugas dan lingkungan.
Dan sejak itu, setiap kali Raka merasa sulit fokus, dia tidak menyalahkan dirinya.
Dia cek kondisi:
targetnya jelas atau kabur? feedback cepat atau lambat?
- distraksi tinggi atau nol?
- tantangan pas atau salah level?
- progress terlihat atau tidak?
- Kalau salah satu rusak, dia perbaiki.
Flow pun datang… seperti kebiasaan, bukan keberuntungan.
Referensi (kalau kamu mau yang ilmiah)
Alameda, Sanabria, & Ciria (2022) – ulasan sistematis dasar saraf flow (Cortex) van der Linden, Tops, & Bakker (2021) – penjelasan neuroscience tentang “fully engaged” (EJN) Gold & Ciorciari (2019) – studi tDCS terkait flow (Frontiers in Human Neuroscience) Lee-Shi & Ley (2022) – kritik alat ukur flow (Frontiers in Psychology)