KRPI (Kuesioner Refleksi Pertanggungjawaban & Integritas) – Versi 1.0

KRPI adalah self-assessment psikoedukatif yang dirancang untuk memetakan refleksi pertanggungjawaban dan integritas yang dipicu oleh kesadaran bahwa hidup terbatas. Fokusnya bukan untuk menuduh perilaku, melainkan untuk menangkap pola batin yang umum muncul ketika seseorang menyadari bahwa hidup bisa berakhir kapan saja: rasa tidak nyaman jika hidup ditutup dengan “beban integritas”, kecenderungan menilai ulang keputusan secara akuntabel, munculnya emosi moral antisipatif seperti rasa bersalah atau malu, kekhawatiran terhadap dampak bagi keluarga dan nama baik, ketegasan menolak rasionalisasi yang menghaluskan pelanggaran, serta kesiapan perilaku untuk menolak godaan ketidakjujuran. KRPI disusun sebagai adaptasi konseptual (bukan terjemahan butir) dari beberapa kerangka ilmiah: reaksi psikologis terhadap mortalitas, mekanisme rasionalisasi (moral disengagement), emosi moral (guilt/shame proneness), dan kesiapan menolak perilaku tidak etis. Instrumen ini juga mempertimbangkan konteks Indonesia yang sensitif terhadap aspek keluarga, reputasi, dan “nama baik”.

Tujuan KRPI adalah mengukur kecenderungan refleksi integritas yang teraktivasi oleh kesadaran akhir hidup, mengidentifikasi titik rawan yang sering menjadi pintu masuk pelanggaran integritas—seperti rasionalisasi, tekanan sosial, hadiah terselubung, dan dorongan “jalur cepat”—serta memberikan rekomendasi reflektif yang dapat diterjemahkan menjadi aksi integritas yang konkret. Manfaatnya mencakup penggunaan untuk psikoedukasi integritas di sekolah, kampus, komunitas, maupun organisasi, sekaligus menjadi materi refleksi individu untuk memperkuat “rem internal” terhadap perilaku tidak jujur dalam situasi sehari-hari.

Pengisian KRPI dilakukan dengan menjawab pernyataan sesuai pengalaman 30 hari terakhir menggunakan skala Likert 1–5, dari “sangat tidak sesuai” hingga “sangat sesuai”. Tidak ada jawaban benar atau salah; responden diminta menjawab secara spontan dan jujur agar hasilnya mencerminkan kecenderungan refleksi yang sebenarnya.

KRPI adalah alat refleksi diri/psikoedukasi, bukan alat diagnosis, bukan instrumen seleksi, bukan audit, dan bukan pendeteksi “korup atau tidak”. Instrumen ini tidak dimaksudkan untuk menilai apakah seseorang pernah melakukan pelanggaran integritas, melainkan untuk mengukur kecenderungan refleksi nilai dan kesiapan menolak dalam situasi hipotetis. Apabila pengisian memicu distress berat seperti kepanikan, insomnia, atau dorongan rasa bersalah yang obsesif, responden disarankan menghentikan pengisian dan mempertimbangkan bantuan profesional.

Penasaran dengan KRPI (Kuesioner Refleksi Pertanggungjawaban & Integritas) – Versi 1.0 Anda? Silahkan isi kusioner dibawah ini.

Saya ingin keluarga mengingat saya sebagai orang yang menjaga amanah.

Saya merasa mampu mengatakan “tidak” ketika ada tekanan untuk bermain kotor.

Saya merasa perlu “membereskan” kesalahan etis karena hidup tidak pasti.

Saya ingin punya standar yang jelas untuk membedakan hadiah wajar dan gratifikasi bermasalah.

Saya takut meninggalkan masalah sosial/hukum bagi keluarga akibat keputusan tidak etis.

Saya cenderung memilih prosedur yang benar meski lebih lama daripada jalur cepat yang tidak bersih.

Saya merasa tidak nyaman membayangkan wajah keluarga saya jika mereka tahu saya melakukan penyimpangan.

Saya merasa ngeri membayangkan meninggal dengan urusan keuangan/keputusan yang tidak bersih.

Pikiran “mati membawa beban integritas” terasa mengganggu bagi saya.

Jika saya menerima hadiah/uang yang tidak pantas, saya yakin rasa bersalah akan muncul kuat.

Saya merasa pembenaran apa pun tidak mengubah fakta bahwa mengambil yang bukan hak itu salah.

Kesadaran bahwa hidup bisa berakhir kapan saja membuat saya ingin memastikan sumber penghasilan saya bersih.

Kesadaran tentang kematian membuat saya lebih serius menilai dampak moral dari keputusan saya.

Saya takut keluarga saya menanggung malu karena tindakan tidak bersih yang saya lakukan.

Saya siap menolak hadiah/uang yang berpotensi memengaruhi keputusan saya.

Saya merasa takut jika hidup saya berakhir sementara ada uang/keuntungan yang bukan hak saya.

Saya sulit menerima alasan “semua orang juga begitu” untuk membenarkan penyimpangan.

Saya tidak nyaman dengan kalimat yang menghaluskan suap menjadi “tanda terima kasih” bila tujuannya melancarkan urusan.

Saya merasa hidup yang baik adalah hidup yang bisa saya pertanggungjawabkan ketika waktu saya selesai.

Saya cenderung mengingat konsekuensi jangka panjang saat ada kesempatan keuntungan cepat

Saya menilai “sedikit” tetap bermakna jika itu melanggar integritas.

Saya akan sulit tenang jika ada tindakan saya yang melanggar integritas, meski orang lain tidak tahu.

Saya mudah merasa “tercemar” jika mengambil sesuatu yang bukan hak saya.

Saya khawatir reputasi keluarga bisa rusak jika saya terlibat penyimpangan.

Kenali Diri Anda Lebih Dalam, Temukan Potensi Terbaik Anda

Mari bergabung dengan komunitas kami untuk belajar, tumbuh, dan mencapai kesejahteraan mental yang lebih baik. Psikonesia hadir untuk menjadi mitra dalam perjalanan Anda menuju kebahagiaan, kedamaian batin, dan pemulihan.

Saya Ingin Bergabung