Deskripsi : KRAI-28 adalah kuesioner refleksi diri yang dirancang untuk memetakan pola ketergantungan seseorang pada AI (misalnya ChatGPT/LLM) dari beberapa sisi utama, yaitu preokupasi, kontrol diri, withdrawal, delegasi kognitif, ketergantungan emosional, konsekuensi fungsional, serta rendahnya verifikasi dan otonomi dalam pengambilan keputusan. Kuesioner ini bukan terjemahan dan tidak menyalin butir pernyataan dari instrumen mana pun; yang diadaptasi adalah kerangka konstruk/dimensi (blueprint) yang telah diuji dalam literatur, terutama dari AIDep-22 yang menekankan ketergantungan emosional, fungsional, kognitif, dan kehilangan kontrol; Generative AI Dependency Scale yang menyoroti preokupasi kognitif, konsekuensi negatif, dan withdrawal; AI Chatbot Dependence Scale yang menyediakan bukti psikometrik satu faktor melalui EFA/CFA; AI Addiction Scale yang menguraikan perilaku kompulsif, overdependency, gangguan fungsi, withdrawal, dan toleransi; serta Problematic ChatGPT Use Scale (PCUS) yang mengukur penggunaan ChatGPT yang bermasalah pada sampel besar. Seluruh rancangan KRAI-28 mengikuti tiga prinsip modifikasi yang Anda minta: semua pernyataan disusun netral tanpa menghakimi, tidak ada item reverse sehingga seluruh skor bergerak searah (semakin tinggi skor semakin kuat indikasi ketergantungan), dan fokus penggunaannya adalah refleksi diri atau screening non-klinis untuk kebutuhan personal maupun konseling, bukan untuk diagnosis klinis.
Tujuan dan manfaat : Tujuan KRAI-28 adalah membantu seseorang menilai secara jernih apakah AI masih berperan sebagai alat bantu yang mempercepat kerja dan memperluas ide, atau sudah mulai berubah menjadi “penopang” yang perlahan menggerus otonomi berpikir, kemampuan mengambil keputusan, serta pengelolaan emosi. Secara praktis, kuesioner ini bermanfaat untuk mendeteksi lebih awal pola-pola yang sering luput disadari—seperti preokupasi terhadap AI, kehilangan kontrol dalam frekuensi penggunaan, munculnya gejala withdrawal saat tidak bisa mengakses AI, kecenderungan mendelegasikan proses berpikir, hingga konsekuensi nyata pada fungsi harian. Selain itu, hasilnya memudahkan pengguna menyusun rencana tindakan yang spesifik berdasarkan dimensi yang paling bermasalah, bukan hanya anjuran umum seperti “kurangi screen time”. Dengan pengisian berkala, misalnya mingguan atau dua mingguan, KRAI-28 juga dapat dipakai untuk mengevaluasi apakah kebiasaan penggunaan AI membaik, stagnan, atau justru semakin menguat dari waktu ke waktu.
Cara pengisian : Kuesioner ini diisi berdasarkan pengalaman Anda selama 30 hari terakhir. Setiap pernyataan dijawab menggunakan skala 1 sampai 5, yaitu 1 = Sangat Tidak Sesuai, 2 = Tidak Sesuai, 3 = Netral, 4 = Sesuai, dan 5 = Sangat Sesuai. Isilah dengan cepat dan jujur—idealnya selesai dalam 7–10 menit—tanpa berusaha menampilkan jawaban yang “terlihat baik”; tujuan kuesioner ini adalah memotret kebiasaan Anda apa adanya agar hasilnya benar-benar berguna untuk refleksi dan perbaikan.
Disclaimer : KRAI-28 bukan alat diagnosis klinis untuk menetapkan “kecanduan AI”; kuesioner ini adalah instrumen refleksi diri yang disusun berdasarkan konstruk-konstruk yang telah dibahas dalam literatur ilmiah tentang ketergantungan dan penggunaan AI yang bermasalah. Batas kategori skor (cut-off) yang digunakan di sini bersifat heuristik dan praktis, belum diturunkan dari norma populasi Indonesia; apabila kuesioner ini akan dipakai untuk kepentingan riset formal, diperlukan pengujian psikometrik yang memadai seperti validitas dan reliabilitas melalui EFA/CFA, koefisien alpha/omega, serta uji invariansi. Jika hasil menunjukkan skor yang tinggi dan Anda juga mengalami distress atau gangguan fungsi yang nyata—misalnya tidur berantakan, performa kerja/sekolah menurun, atau relasi sosial terganggu—maka langkah yang rasional adalah mempertimbangkan konsultasi dengan tenaga profesional yang kompeten agar Anda memperoleh asesmen dan intervensi yang sesuai.